Kultur Sekolah
Nama : Rilia Anzani
Kelas : PAI 4 A
Tugas Magang 1
KULTUR SEKOLAH
Kultur merupakan
pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang
mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud
fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan
diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan
lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar
generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).
Sekolah merupakan
sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial di
antara para anggotanya yang bersifat unik pula. Hal itu disebut kebudayaan
sekolah. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak
sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga
dan masyarakat untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani
kepentingan transmisi nilai (Ariefa Efianingrum, 2007: 51)
Kultur sekolah diyakini
memiliki peran dalam menghasilkan kinerja yang terbaik pada masing-masing
individu, kelompok kerja atau unit kerja sekolah. Oleh karena itu, sekolah
sebagai satu institusi, perlu membangun hubungan sinergitas antarwarga sekolah
yang positif agar memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan. Beberapa
kajian menunjukkan salah satu faktor penghambat pencapaian prestasi sekolah
ialah kultur atau budaya sekolah. Oleh karena itu, untuk memperbaiki kualitas
sekolah perlu dilakukan melalui sentuhan budaya sekolah terlebih dahulu jika
mutu pendidikan ingin diperbaiki.
Kultur sekolah adalah serangkaian keyakinan, harapan,
nilai-nilai, norma, tata aturan, dan rutinitas kerja yang diinternalisasi warga
sekolah sehingga mempengaruhi hubungan sejawat dan kinerja warga sekolah dalam
upaya mencapai tujuan sekolah. Kultur inilah yang menjadi pembeda antara
sekolah satu dengan lainnya. Ketika warga sekolah, dari kepala sekolah hingga bagian kebersihan,
memiliki komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai yang disepakati bersama maka
sekolah tersebut memiliki kultur yang kuat. Nilai kedisiplinan, misalnya, yang
disepakati dan diterapkan bersama secara bertanggung jawab dan penuh komitmen
maka sekolah tersebut memiliki kultur yang kuat. Sebaliknya, jika seluruh warga sekolah atau sebagian
warga sekolah tidak memiliki komitmen terhadap implementasi nilai-nilai yang
disepakati maka sekolah tersebut memiliki kultur organisasi yang lemah. Sekolah yang memiliki kultur disiplin,
bersih, tertib, dan teratur pastilah dipandu oleh seorang manager yang memiliki
keberanian dan kedisiplinan tinggi serta sangat perhatian terhadap
detail-detail kebersihan dan ketertiban lingkungan sekolah. Bagaimana kultur sekolah yang positif
terbentuk? Kultur sekolah harus dibangun di atas landasan ilmu dan pemahaman
yang memadai. Mengapa sekolah ini harus menerapkan kedisiplinan dalam berbagai
hal, misalnya, harus dipahami oleh semua warga sekolah. Oleh karena itu tahapan
sosialisasi menjadi langkah awal penanaman kultur, khususnya kepada warga baru,
guru atau siswa baru. Melalui tahapan sosialisasi, warga sekolah mengawali
proses internalisasi nilai-nilai dan norma yang dianut sekolah . Tahapan berikutnya adalah pemantapan
melalui serangkaian kegiatan pembiasaan dengan keteladanan piramid. Kepala
sekolah menjadi tokoh utama keteladanan diikuti guru dan karyawan sedangkan
peserta didik menjadi followers yang menyerap nilai-nilai
positif dari perilaku para pemimpinnya.
Karakteristik kultur sekolah
Kultur sekolah
diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang
diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional.
Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias
dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga
sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh
vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Sifat
dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur
sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur
tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem
nilai dan keyakinan pelaku dan
bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika
kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan
bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat
Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Kultur-kultur yang
direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain : 1. Kultur yang
terkait prestasi/kualitas : (a) semangat membaca dan mencari referensi; (b)
keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; (c)
kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara
lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan
sistematis. 2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial : (a) nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan; (b) nilai-nilai keterbukaan; (c) nilainilai kejujuran;
(d) nilai-nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai
menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; (g) nilai-nilai untuk
menghargai orang lain; (h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; (i) nilai-nilai
untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri;
(k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai kebersamaan; (m) nilai-nilai
saling percaya; (n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah (
Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).
IDENTIFIKASI KULTUR
SEKOLAH
Beberapa hal yang dapat
diidentifikasikan sebagai kultur sekolah, misalnya:
1. Artifak
a. dapat diamati
seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan
rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacaraupacara, ritus-ritus,
simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tandatanda, sopan santun, cara
berpakaian. b. tak dapat diamati: berupa norma-norma kelompok atau cara-cara
tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok.
2. Nilai-nilai dan
keyakinan:
Nilai dan keyakinan
yang ada di sekolah dan menjadi ciri utama sekolah, misalnya: ungkapan Rajin
Pangkal Pandai; Air Beriak Tanda Tak Dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan
keyakinan lain.
Komentar
Posting Komentar