KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Nama : Rilia Anzani
NIM : 11901182
Kelas : PAI 4 A
KARAKTRISTIK PESERTA DIDIK
Karakteristik merupakan suatu gaya hidup seseorang maupun
nilai yang berkembang secara teratur setiap hari yang mengacu kepada tingkah
laku yang mengarah pada kepribadian yang lebih konsisten dan mudah dipahami.
Dimana karakteristik dapat diartikan sebagai ciri yang lebih ditonjolkan dalam
berbagai aspek tingkah laku ( Daryanto & Rachmawati, 2015: 15)
Peserta didik
merupakan orang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai kelompok yang sedang
melaksanakan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat penting
dalam kegiatan pembelajaran. Karena peserta didik dijadikan sebagai titik
persoalan dalam berbagai aktifitas kegiatan belajar mengajar. Dalam aspek
psikologis, peserta didik merupakan titik penentu dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan baik dalam artian bentuk fisik maupun psikis. Namun, peserta didik
juga berhak mendapatkan bimbingan yang terarah dan konsisten dalam menentukan
kemampuan yang sebenarnya. Peserta didik disebut sebagai insan yang menarik.
Karena memiliki fisik dan psikis yang unik. Berbagai potensi yang dimiliki oleh
peserta didik masih memerlukan perkembangan guna mencapai kebutuhan untuk
perkembangan yang sangat optimal. Menurut Reigeluth (1993) seorang
ilmuan pembelajaran yang menetapkan bahwa kedudukan karakteristik peserta didik
merupakan komponen terpenting dalam pengembangan pengelolaan strategi
pembelajaran. Dalam hal ini, proses pembelajaran yang didalamnya terdapat
dimensi, metode, dan strategi yang telah dikembangkan dalam pembelajaran.
Sehingga menganalisis karakteristik peserta didik merupakan suatu langkah awal
yang harus dikembangkan. Strategi dan model dikembangkan dengan tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Oleh karena itu, pembelajaran harus
berpandangan kepada karakteristik peserta didik.
Karakteristik peserta didik dapat
didefinisikan sebagai aspek maupun kualitas seorang peserta didik. Berbagai
aspek yang yang ada dalam diri peserta didik dapat dikaitkan dengan penataan
pembelajaran. Sehingga karakteristik peserta didik dapat mempengaruhi pemilihan
strategi pembelajaran. Sesungguhnya, karakteristik pada peserta didik
dididentifikasi dapat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar
peserta didik.
Kemampuan yang dimiliki oleh
setiap peserta didik merupakan tonggak untuk memilih strategi pembelajaran yang
cocok. Kemampuan peserta didik yang dijadikan sebagai kemampuan awal atau
tonggak ini berperan untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaran. Hal ini
menyebabkan perubahan besar yang membantu memudahkan proses internal yang
terjadi pada peserta didik pada saat meraka melakukan kegiatan belajar
Secara umum karakteristik peserta
didik yang disebut sebagai karakter individu ini dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu faktor usia, latar belakang, dan keturunan (gender).
Faktor – faktor tersebut telah dibawa sejak peserta didik lahir. Tetapi faktor
tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan dari lingkungan sosial yang menjadi
titik awal menentukan kualitas hidup. Teori pembelajaran dijadikan sebagai
acuan pada saat pengoptimalan proses pembelajaran. Sehingga teori tersebut
dapat dikatakan sebagai teori yang komprehensif. Memasuki tahun 1960, Ausabel
mengemukakan bahwa dalam mengoptimalkan perolehan hasil belajar,
pengorganisasian, dan mengungkapkan adanya pengetahuan baru yang bertujuan
untuk menciptakan dan mempuat pengetahuan baru yang sangat bermakna bagi
peserta didik. Hal – hal yang perlu dilakukan adalah dengan menghubungkan
pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. (Umamah, 2014:101)
Dalam perkembangannya, peserta
didik juga memiliki suatu hambatan dalam proses pembelajaran. Sehingga banyak
berbagai faktor yang mempengaruhi karakteristik peserta didik antara lain:
·
Dalam diri individu sendiri :
Sejak berada dalam kandungan,
janin tumbuh dan berkembang seseuai dengan proses tahapannya. Jadi akan
terdapat berbagai faktor yang mempengaruhinya, yakni:
1. Bakat
Setiap bakat yang dimiliki oleh
peserta didik dapat tumbuh dengan sendirinya dan tergantung pada peserta didik
itu sendiri mau atau tidak dalam mengembangkan potensi bakat yang dimiliki.
2. Sifat keturunan
Berdasarkan fakta yang dimiliki
oleh manusia, maka besar kemungkinan bagi peserta didik untuk memiliki sifat
yang berdasarkan garis keturunan yang dimiliki oleh orang tua mereka.
3.
Dorongan dan instik
Dorongan dan instik yang dimiliki
oleh peserta didik berasala dari batin mereka masing – masing. Sehingga
dorongan disini merupakan ambisi dari peserta didik untuk terus maju dalam
meningkatkan proses pembelajaran.
·
Luar dari Individu
Faktor selanjutnya yakni
berdasarkan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya yang dapat mempengaruhi
karakteristik peserta didik antara lain :
1.
Makanan
Makanan maupun minuman dapat
mempengaruhi dan menghambat perkembangan peserta didik karena setiap makanan
dan minuman yang dikonsumsui dapat menjadi gizi dan racun bagi kesehatan tubuh
manusi
2.
Iklim
Iklim yang dimiliki oleh suatu
negara juga dapat memperuhi karakteristik peserta didi. Karena bila iklim di
sekitar mereka baik dan tidak buruk. Maka sedikit kemungkinan untuk menghambat
perkemangan karakteristik peserta didik.
3.
Ekonomi
Ekonomi yang yang dimiki oleh
pserta didik juga mampu menghambat perkembangan karakteristik peserta didik.
Karena semakin tinggi ataupun semakin rendah suatu ekonomi yang dimiliki maka
akan besar pengaruhnya terhadap karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik.
·
Umum
1.
Intelegensi
Kemampuan
intelegensi ataupun intelektual yang dimiliki oleh peserta didik dapat mempengaruhi ke dalam proses pembelajaran
peserta didik
2.
Jenis kelamin
Jenis
kelamin juga bisa disebut sebagai penghambat karakteristik peserta didik.
Karena setiap laki – laki maupun wanita memilki perbedaan yang signifikan untuk
diketahui oleh peserta didik.
Reigeluth
(dalam Degeng, 1999) dalam menganalisis karakteristik peserta didik dapat
dilakukan dengan mengklasifikasikan menjadi tiga cara yakni kemampuan yang
berkaitan dengan:
1.
Pengetahuan yang akan diajarkan
2.
Pengetahuan yang berada diluar
pengetahuan yang dibicarakan
3.
Pengetahuan mengenai ketrampilan
generik
Pada
klasifikasi yang pertama ini berhubungan dengan pengetahuan yang akan diajarkan
dan meliputi berbagai tingkat pengetahuan sebagai berikut:
1.
Pengetahuan tingkat yang lebih
tinggi (Superordinate knowledge)
Pengetahuan
tingkat yang lebih tinggi ini merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang
berada diatas analogic knowledge. Jadi dalam hal ini pengetahuan tingkat lebih
tinggi dapat berfungsi sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang
baru.
2.
Coordinate knowledge (pengetahuan
setingkat)
Pengetahuan
setingkat ini merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai pengetahuan yang
komparatif.
3.
Pengetahuan tingkat yang lebih
rendah (Subordinate knowledge)
Pengetahuan
tingkat yang lebih rendah ini merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk
menyatakan kebenaran pengetahuan baru yang sebenarnya. Sehingga dapat
dibuktikan dengan memberikan contoh-contohnya.
4.
Pengetahuan pengalaman (Experiential
knowlege)
Pengetahuan
berdasarkan pengalaman ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan
pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga
mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk
pengetahuan baru.
Sedangkan
dalam klasifikasi kedua berkaitan dengan pengetahuan yang berada di luar
konteks pengetahuan yang akan dibicarakan yang meliputi berbagai identifikasi
pengetahuan sebagai berikut:
1.
Pengetahuan bermakna tak
terorganisasi (Arbitrarily meaningfull knowledge).
Pengetahuan
ini merupakan tempat untuk mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam
hal ini merupakan hafalan yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki
makna penting bagi pengetahuan peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk
memudahkan retensi.
2.
Pengetahuan analogis (Analogic
knowledge)
Pengetahuan
seperti ini merupakan pengetahuan baru yang mengaitkan pengetahuan dengan
kemampuan peserta didik maupun pengetahuan baru yang masih sama dan serupa
serta berada di luar topik atau isi yang sedang dibicarakan.
Adapun
klasifikasi yang ketiga yang berhubungan dengan pengetahuan tentang ketrampilan
generik yakni meliputi:
1.
Strategi kognitif (Cognitive
strategy)
Strategi
kognitif yang dimaksud ialah suatu strategi yang menyediakan berbagai cara
dalam mengolah pengetahuan baru. Sehingga akan ada pemikiran ataupun
pengungkapan kembali terhadap pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori
ingatan
Apabila
dilihat dari tingkat penguasaan, kemampuan awal peserta didik dapat
diklasifikasikan menjadi tiga antara lain:
1.
Kemampuan awal siap pakai
Pada
tahapan ini lebih mengacu pada kemampuan awal, sebagaimana telah diidentifikasi
oleh Reigeluth. Sehingga peserta didik juga sudah bisa menguasainya. Selain itu
peserta didik juga dapat memakainya dalam situasi apaun.
2.
Kemampuan awal siap ulang
Pada
tahapan ini mengacu pada kemampuan awal peserta didik, dimana peserta didik
masih belum menguasai materi yang seharusnya dipahami. Sehingga peserta didik
bergantung pada sumber sumber yang releva seperti buku untuk menggunakan
kemampuan awal siap ulang ini.
3.
Kemampuan awal pengenalan
Pada
tahapan kemampuan awal pengenalan ini, peserta didik perlu mengulangi beberapa
kali agar lebih memahaminya. Sehingga dalam kemampuan awal ini masih tergantung
pada sumber buku yang relevan dan peserta didik juga terkadang belum
menguasainya.
Pada
setiap pengidentifikasian kemampuan yng telah diidentifikasi (Reigeluth, 1993)
mengungkapkan bahwa kemampuan awal peserta didik ada yang masih mencapai
tingkat pengenalan, adapula yang mencapai siap pakai. Sehingga dalam
menganalisis karakteristik peserta didik perlu memperhatikan setiap kemampuan
awal yang bervariasi penguasaannya dari peserta didik yang satu terhadap
peserta didik yang lain. Pendidikpun juga perlu memperhatikan karakteristik
peserta didik. Dalam hal inikemampuan awal sangat penting berperan sebagai
pengembangan dalam pembelajaran khususnya dalam memilih strategi pembelajaran.
Komentar
Posting Komentar